Mediacirebon.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon mencatat sampai dengan April 2026 menerima 600 pengaduan. Sebagian besar yang mengadu ke OJK Cirebon adalah perempuan. Kalangan perempuan rentan menjadi korban investasi bodong dan pinjaman ilegal.
Menurut Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, tingginya jumlah aduan dari perempuan menunjukkan masih rendahnya tingkat literasi keuangan, khususnya dalam memahami risiko produk jasa keuangan. Apalagi iming-iming keuntungan besar membuat kaum perempuan tergiur.
“Rata-rata investasi bodong tidak terdaftar di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS),” ungkap Agus kepada wartawan usai sosialiasi keuangan, Kamis (23/4/2026)
Imasih kata Agus, fenomena ini tidak lepas dari maraknya penawaran investasi bodong dan pinjaman online ilegal yang menyasar berbagai lapisan masyarakat. Kurangnya pemahaman membuat sebagian masyarakat mudah terjebak dalam skema yang merugikan.
“Untuk itu, OJK pun terus menggencarkan edukasi keuangan, terutama kepada komunitas perempuan. Dengan begitu diharapkan mampu meningkatkan kesadaran perempuan terhadap pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak,” katanya.
Selain edukasi langsung, kata Agus, OJK juga menyediakan berbagai materi literasi keuangan dalam format digital, termasuk panduan perencanaan keuangan keluarga yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
Agus menilai, aktivitas sosial di kalangan perempuan sebenarnya bisa menjadi kekuatan besar dalam menyebarkan informasi positif. Namun, tanpa arahan yang tepat, interaksi tersebut justru berpotensi menjadi celah penyebaran informasi menyesatkan.
“Tinggal bagaimana kita mengarahkan agar ruang-ruang interaksi itu diisi dengan edukasi yang benar. Kalau ini berhasil, dampaknya akan sangat besar bagi ketahanan ekonomi keluarga,” katanya.
Melalui edukasi yang masif dan berkelanjutan, kata Agus, angka pengaduan dapat ditekan, sekaligus mendorong perempuan menjadi lebih cerdas dan mandiri dalam mengelola keuangan keluarga. (Why)
