Mediacirebon.id – Peradaban besar tidak lahir dari kekosongan nilai. Ia tumbuh dari cara berpikir yang futuristik, namun tetap berakar kuat pada sejarah dan nilai luhur masa lalu. Inilah pesan utama yang disampaikan *Dr. KH. Taufik Ridwan, M.Hum,* Founder Syntax Education, dalam *Kajian Inspiratif* bertema *“Peradaban Pendidikan Islam 2026”* yang digelar secara daring melalui Zoom pada hari Jum’at, 9 Januari 2026 dan diikuti oleh talent Syntax Education, dosen Politeknik SCI, serta dosen STAIKU.
Menurut KH. Taufik Ridwan, tantangan pendidikan Islam hari ini bukan hanya soal kurikulum atau teknologi, tetapi tentang *pergeseran ekosistem nilai* dalam kehidupan anak-anak. “Hari ini, anak-anak kita memiliki ayah baru bernama *gawai*, tetangga baru bernama *video pendek*, dan kawan baru bernama *game online*,” ujarnya. Kondisi ini menuntut orang tua dan pendidik untuk lebih sadar bahwa pembentukan karakter dan peradaban tidak bisa dilepaskan dari realitas digital.
Ia menegaskan bahwa dalam Islam, bahkan ilmu-ilmu eksakta pun sarat dengan nilai ketauhidan. Sains tidak berdiri netral dan kering makna, melainkan dapat menjadi jalan ibadah dan kemaslahatan jika dikembangkan dengan orientasi yang benar. Di sinilah Islam hadir bukan sekadar sebagai agama ritual, tetapi *sebagai sistem peradaban* yang membentuk manusia berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab secara sosial.
KH. Taufik mengingatkan tentang konsep *amal jariyah* sebagai fondasi peradaban. Mengutip hadis tentang tiga amalan yang pahalanya tidak terputus, yakni : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh. Ia menekankan bahwa peradaban sejatinya dimulai dari *sedekah ilmu, sedekah pemikiran, dan kontribusi berkelanjutan bagi umat*. Peradaban, lanjutnya, adalah refleksi dari kualitas manusia dan nilai yang dianutnya.
Dalam paparannya, ia menguraikan empat pilar utama konsep peradaban Islam:
*Tauhid* sebagai pusat nilai,
*Ilmu* sebagai instrumen kemajuan,
*Akhlak* sebagai fondasi sosial, dan
*Keadilan* sebagai tujuan tatanan masyarakat.
Landasan teologis peradaban ini berpijak pada wahyu, di antaranya QS. *Al-‘Alaq* ayat 1–5 tentang literasi dan ilmu, QS. *Al-Baqarah* ayat 30 tentang mandat kekhalifahan manusia, serta QS. *Al-Hujurat* ayat 13 tentang kemuliaan manusia dan keberagaman.
Secara historis, peradaban Islam dibangun melalui institusi ilmu, tradisi penerjemahan dan riset, serta integrasi agama dan sains. Pada masa keemasan Islam, tidak jarang seorang ilmuwan fisika juga memahami tafsir Al-Qur’an. Selain itu, sistem administrasi dan hukum yang rapih menjadi ciri peradaban maju. Hal ini menjadi sebuah pelajaran penting bahwa dunia pendidikan modern, termasuk sekolah, perlu memiliki regulasi yang baku dan berkeadilan.
Kontribusi Islam terhadap ilmu pengetahuan dunia pun sangat nyata, mulai dari kedokteran, matematika, aljabar, hingga filsafat dan etika. Semua dikembangkan dengan kesadaran bahwa ilmu adalah sarana ibadah dan alat untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia.
Nilai inti peradaban Islam, menurut KH. Taufik, mencakup *literasi dan budaya ilmu, toleransi dan dialog, amanah dan profesionalisme, serta kepedulian sosial dan keadilan*. Nilai-nilai inilah yang harus ditanamkan dalam sistem pendidikan Islam ke depan.
Menutup pemaparannya, ia menegaskan bahwa *peradaban Islam adalah proyek keberlanjutan*. Tahun 2026 dipandang sebagai momentum penting untuk meneguhkan kembali arah pendidikan Islam agar tidak hanya adaptif terhadap masa depan, tetapi juga setia pada nilai-nilai tauhid dan kemanusiaan. “Pendidikan Islam bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi membangun peradaban,” pungkasnya.
