Close Menu
  • Utama
  • Wakil Rakyat
  • Serba Serbi
  • Ekbis
  • Kriminal
  • Viral
  • Wisata & Kuliner
  • Opini
Facebook X (Twitter) Instagram
Media Cirebon
Facebook X (Twitter) Instagram
SUBSCRIBE
  • Utama
  • Wakil Rakyat
  • Serba Serbi
  • Ekbis
  • Kriminal
  • Viral
  • Wisata & Kuliner
  • Opini
Media Cirebon
Home ยป Gunung Meletus Yang Kapan Saja Dapat Terjadi

Gunung Meletus Yang Kapan Saja Dapat Terjadi

Wednesday, 17 April 2024
Facebook Twitter Telegram WhatsApp Copy Link
Hilmy Nadiyah Harit Tadris ilmu pengetahuan sosial jurusan ilmu tarbiyah dan keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Share
Facebook Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Dikutip dari BPBD Sidoarjo Gunung meletus merupakan gunung yang memuntahkan materi-materi yang ada di dalam bumi seperti debu, awan panas, asap, kerikil, batu-batuan, lahar panas. Letusan gunung merapi dapat terjadi akibat terdapat magma yang ada di dalam perut bumi yang dikeluarkan oleh gas yang memiliki tekanan tinggi.

Letusan yang dihasilkannya membawa abu dan batu yang dapat menyembur dengan keras sampai sejauh radius 18 km atau lebih, sedangkan lavanya dapat membanjiri daerah yang jarak nya sejauh radius 90 km. Letusan gunung berapi pun dapat menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar hingga sampai ribuan kilometer jauhnya.

Gunung berapi di Indonesia cukup banyak karena Indonesia berada di antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Akan tetapi ,yang masih aktif hingga sekarang hanya beberapa gunung diantara nya yaitu gunung Kelud , gunung Sinabung dan gunung merapi yang dimana gunung2 tersebut pada tahun 2000an masih aktif mengeluarkan semburan larva nya.

Dalam meletusnya gunung berapi ini dibutuhkan mitigasi bencana alam yang merupakan upaya untuk mengurangi dan memperkecil akibat yang terjadi dari letusan gunung merapi tersebut.Dalam mitigasi tersebut pemerintah mendirikan badan mitigasi khusus yang menangani bencana alam khususnya gunung meletus yang bernama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Alam Geologi (PVMBG).

Mitigasi Bencana Gunung Meletus dilakukan dari sebelum maupun pasca terjadinya gunung meletus tersebut.Mengurangi resiko bencana gunung meletus itu memerlukan cara penanggulangan untuk mengurangi resiko yang lebih berbahaya bagi masyarakat sekitar.Banyak cara untuk menaggulangi resiko sebelum gunung meletus tersebut terjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah bekerjasama dengan BMKG untuk memprediksi status aktif dari gunung berapi tersebut sehingga masyarakat serta elemen pemerintah yang ada digunung tersebut dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dikutip dari Wikipedia Belum lama ini Indonesia terjadi letusan gunung berapi yang terletak di Klaten; Boyolali; Magelang; (Jawa Tengah); Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta).Pada tanggal 3 Desember 2023 pukul 14:54 WIB, Gunung Marapi meletus. Letusan tersebut menyemburkan abu setinggi 3.000 meter (9.800 kaki) ke udara, dan abu vulkanik dalam jumlah besar diendapkan di distrik-distrik terdekat .

BMKG sudah memprediksi serta memberikan peringatan siaga 1 kepada pihak terkait untuk menutup jalur pendakian akan tetapi pemerintah setempat menurunkan menjadi waspada yang dimana hal tersebut memungkinkan para pendaki untuk melakukan pendakian tersebut.

Lihat Juga :  Keadilan hukum itu dimana?

Pada saat peristiwa gunung merapi tersebut meletus terdapat banyak para pendaki yang sedang mendaki di puncak maupun kaki gunung merapi tersebut. Semua para pendaki bergegas untuk meninggalkan kawasan puncak maupun kaki Gunung tersebut akan tetapi tak banyak dari mereka yang justru terjebak oleh semburan abu vulkanik yang dikeluarkan oleh gunung merapi tersebut.

Mereka yang berada di puncak sulit untuk turun kebawah karena abu vulkanik yang tebal sehingga membuat pandangan serta kesehatan mereka menurun dan tidak memungkinkan lagi untuk turun kebawah sehingga membuat para pendaki dari salah satu kampus terjebak didalam letusan gunung merapi tersebut dan mereka meninggal saat terjadinya letusan gunung merapi tersebut.

Banyak vidio-Vidio yang beredar di media sosial yang dimana vidio tersebut menunjukkan perjuangan para korban untuk selamat dari letusan gunung merapi tersebut dan berupa pesan singkat WhatsApp yang dimana terdapat voice note dari salah satu korban yang meminta tolong kepada keluarga nya yang berada dirumah.

Sontak kejadian tersebut membuat masyarakat Indonesia pun geger dengan terjadinya gunung merapi tersebut karena banyak keluarga para pendaki yang mencemaskan keadaan para pendaki yang berada di gunung Merapi tersebut akan tetapi Tim SAR turun tangan menyisir area terjadinya letusan gunung merapi tersebut untuk menemukan korban jiwa yang masih ada di puncak maupun dikaki gunung tersebut.

Karena tak hanya para pendaki yang menjadi korban namun masyarakat sekitar yang berada di kaki gunung pun berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri dari letusan abu vulkanik tersebut yang membuat sebagian rumah mereka tertutup abu vulkanik tersebut.

Bagi masyarakat yang tinggal tinggal dikawasan kaki gunung merapi harus mengetahui bagaimana cara untuk menanggulangi dampak dan pencegahan dari terjadinya gunung meletus sehingga masyarakat tidak kebingungan melakukan hal apa saja yang dilakukan saat terjadi nya gunung meletus tersebut.

Mitigasi bagi masyarakat yang tinggal di daerah gunung meletus perlu adanya penyuluhan tentang bagaimana cara untuk menghadapi gunung meletus tersebut terutama pasca terjadinya.Sebelum terjadinya gunung meletus sebagai masyarakat kita mengikuti arahan pemerintah jika pemerintah sudah mengatakan siaga 1 maka segala aktivitas pendakian maupun masyarakat harus dibatasi untuk mengurangi korban jiwa.

Penanganan pasca bencana tersebut dengan mengungsi ketempat yang jauh dari muntahan lahar gunung meletus tersebut dan berjarak radius 90 km dari rumah warga setempat sudah tidak bisa ditinggali kembali sehingga tidak hanya kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh pemerintah pemerintah juga harus menyediakan tempat atau wilayah baru untuk masyarakat membangun desa baru yang layak huni.

Lihat Juga :  Peradaban Pendidikan Islam 2026: Menatap Masa Depan Tanpa Melupakan Akar Nilai

Pemerintah menggunakan media teknologi informasi dapat memberitahukan kepada para pendaki tentang status gunung berapi yang ada di Indonesia sehingga para pendaki dapat mengetahui dan mengantisipasi agar tidak menaiki gunung yang berstatus siaga sehingga dapat mengurangi korban jiwa.

Dikutip dari media berita baik.id apabila Para pendaki saat terjadi peristiwa seperti meletusnya gunung Merapi yang sudah tidak berstatus siaga namun tiba-tiba tidak dapat di prediksi gunung tersebut meletus hingga menelan korban jiwa yang dilakukan oleh pendaki yaitu mengetahui jalur evakuasi dan shelter yang telah disiapkan oleh pihak berwenang.

Pemerintah harus menggunakan media teknologi untuk mengetahui atau memprediksi status dari gunung berapi tersebut walaupun prediksi tersebut berasal dari teknologi yang dimana teknologi tersebut masih terdapat kekurangan yang membuat prediksi tersebut tidak akurat oleh karena itu masyarakat juga berperan penting dalam mengupayakan antisipasi bencana tersebut.

Masyarakat juga tidak sepenuhnya dapat mengandalkan prediksi dari pemerintah jika pemerintah sudah memprediksi adanya status waspada maka masyarakat sebaiknya harus bersiap siaga karena sewaktu waktu gunung tersebut dapat memuntahkan lahar panasnya yang akan membuat sekitar terkena lahar panas tersebut yang mengakibatkan pohon serta tanaman warga ikut mati .

Tempat tinggal masyarakat harus menjauh dari kaki gunung gunung tersebut agar dampak yang terjadi tidak terlalu berat dan menelan korban jiwa.Masyarakat setempat juga harus membantu mengupdate kondisi dari status gunung berapi tersebut sehingga kerja sama dari berbagai elemen masyarakat, pemerintah dan pendaki dapat bekerja sama dapat mengurangi resiko yang terjadi saat gunung meletus terjadi.

Tak hanya harta benda masyarakat pun trauma akan terjadi letusan tersebut sehingga pemerintah perlu memberikan bantuan kepada korban dengan mendatangkan tenaga media untuk menyembuhkan trauma bagi masyarakat dan tentunya jika ada masyarakat yang sakit terkena udara yang buruk dari letusan tersebut dapat ditangani langsung oleh pihak medis.

Hal tersebut juga dapat meminimalisir terjadinya korban jiwa karena pasca bencana masyarakat dan bagi para pendaki yang selamat masih dapat ditangani secara cepat oleh pihak medis.

Hilmy Nadiyah Harits

2381040039

Tadris ilmu pengetahuan sosial jurusan

ilmu tarbiyah dan keguruan

IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Komunikasi Organisasi sebagai Tanggung Jawab Kolektif: Refleksi atas Dinamika Rukun Tetangga dalam Membangun Iklim Sosial yang Sehat

Wednesday, 8 April 2026 Opini

Literasi Digital dan Peranannya Dalam Meningkatkan Kecerdasan Bermedia Sosial

Saturday, 28 March 2026 Opini
Terbaru
  • Aktivitas Ilegal di Rel Berbahaya Bagi Masyarakat dan Perjalanan KA
  • Wakil Walikota Cirebon Pimpin Perwosi Periode 2026-2030
  • Stok Menitipis, Ratusan Kapal Nelayan Sandar di PPN Kejawanan
  • BPS dan Kadin Sinergi Sensus Ekonomi 2026 di Kota Cirebon
  • Anggaran Penginapan DPRD Kab Cirebon Mencapai Rp4,31 Miliar
  • Tuntut Gaji Layak, PPPK Paruh Waktu Lapor ke DPRD Kota Cirebon
Media Cirebon
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2026 PT Media Cirebon Kreatif.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.