Mediacirebon.id – Saat ini hampir di setiap Perusahaan didominasi oleh pegawai dari kalangan Generasi Y (Gen Y) atau yang kita kenal dengan sebutan “milenial”. Gen Y dikenal kritis, adaptif, dan cepat belajar, namun ternyata banyak pemimpin mengakui bahwa semangat kerja Gen Y dapat berubah dengan cepat (moody). Ada kalanya mereka sangat antusias, tetapi tiba-tiba kehilangan energi hanya karena satu kebijakan yang tidak jelas. Menariknya, masalah ini sering kali bukan disebabkan oleh gaji, fasilitas, atau jam kerja, melainkan oleh ketidakjelasan komunikasi.
Karakteristik Gen Y
Gen Y tumbuh dalam kultur digital yang serba terbuka. Mereka terbiasa mengakses informasi secara cepat dan transparan sehingga segala hal dapat dicari dan didiskusikan. Karena itu, ketika memasuki dunia kerja, Gen Y memiliki ekspektasi bahwa Perusahaan dapat memberikan informasi dengan cara yang terbuka, jelas, jujur, dan aksesibel. Inilah alasan mengapa transparansi komunikasi menjadi kunci motivasi Gen Y.
Gen Y menuntut Perusahaan secara konsisten menerapkan prinsip keterbukaan, kejujuran, dan aksesibilitas informasi serta tidak menyembunyikan hal-hal penting yang menyangkut pekerjaan mereka. Ketika 3 (tiga) prinsip ini terpenuhi, Gen Y merasa dihargai dan diikutsertakan; jika sebaliknya, mereka merasa dipinggirkan.
Keterbukaan menjadi fondasi pertama. Bagi Gen Y, penugasan, perubahan kebijakan atau keputusan strategis menandakan sinyal kepercayaan dari pimpinan, mereka merasa dianggap dewasa dan mampu memahami situasi. Sebaliknya, ketika hal-hal tersebut khususnya yang bersifat strategis hanya diberikan kepada kelompok tertentu, Gen Y langsung merasakan adanya ketidakadilan. Hal ini memengaruhi motivasi karena mereka merasa tidak diberi kesempatan untuk memahami peristiwa yang berdampak pada peran mereka.
Gen Y sangat peka terhadap inkonsistensi pesan. Mereka akan membandingkan antara informasi internal dengan apa yang mereka ketahui dari media sosial atau mendengar isu dari rekan kerja. Ketika Perusahaan menyampaikan sesuatu yang tgidak pas atau terasa “dipoles”, Gen Y akan cepat menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai. Pada titik ini, kepercayaan menurun yang tentunya berdampak pada semangat kerja. Namun ketika Perusahaan memberikan informasi yang benar/valid, sekalipun tidak menyenangkan, Gen Y justru merespons positif. Oleh karenanya, kejujuran juga menjadi elemen yang sangat penting.
Aspek ketiga adalah aksesibilitas, sering kali tampak remeh tetapi sangat menentukan. Informasi yang baik bukan hanya jujur dan terbuka, tetapi juga harus mudah diakses. Gen Y ingin informasi yang mudah diakses dan tidak berbelit. Ketika akses informasi yang mereka dapatkan jelas, mereka merasa menjadi bagian dari proses Perusahaan. Namun ketika informasi tidak dikomunikasikan merata, Gen Y merasa bingung dan seperti tidak memiliki arahan, sehingga pada akhirnya menurunkan motivasi kerja.
Komunikasi Yang Transparan Dalam Organisasi
Di banyak tempat kerja, kurangnya transparansi dapat terlihat dari fenomena sehari-hari. Misalnya, promosi diumumkan tanpa kriteria yang jelas. Gen Y akan bertanya-tanya apa standar keberhasilannya dan apakah prosesnya sudah sesuai dengan SOP. Ketidakjelasan ini membuat mereka ragu apakah pekerjaan mereka dihargai. Atau ketika tugas diberikan tanpa konteks, mereka merasa hanya “disuruh”, bukan diajak berkolaborasi. Perubahan struktur organisasi yang disampaikan tiba-tiba juga menimbulkan kecemasan. Rasa tidak pasti inilah yang menguras energi kerja mereka.
Sebaliknya, Perusahaan yang konsisten menerapkan komunikasi transparan sering kali memiliki pegawai Gen Y yang lebih terhubung secara emosional. Mereka merasa dipercaya, diberi ruang untuk memahami konteks, dan dilibatkan dalam pekerjaan. Emosi positif ini menciptakan motivasi intrinsic, motivasi yang tidak bergantung pada hadiah eksternal tetapi pada rasa memiliki dan rasa dihargai. Gen Y tidak hanya bekerja untuk memenuhi target, tetapi untuk mencapai makna dalam pekerjaan mereka.
Banyak orang menilai Gen Y sebagai generasi yang “sensitif”, tetapi sebenarnya mereka hanya butuh penjelasan. Mereka ingin memahami “mengapa” di balik kebijakan, “bagaimana” perubahan akan berdampak pada mereka, dan “apa” yang perlu mereka lakukan untuk berkembang. Ketika Perusahaan mampu memberikan jawaban-jawaban ini dengan jelas dan jujur, motivasi Gen Y berkembang dengan sendirinya. Mereka bekerja lebih aktif, lebih kreatif, dan lebih berani mengambil tanggung jawab.
Transparansi komunikasi sebenarnya tidak membutuhkan strategi yang rumit. Langkah-langkah sederhana sudah dapat memberikan dampak besar. Misalnya, ketika memberikan tugas, atasan dapat menjelaskan tujuan besar dari pekerjaan tersebut dan apa kontribusinya terhadap Perusahaan. Ketika kebijakan berubah, jelaskan alasan, implikasi, dan hal apa yang mungkin masih belum pasti. Untuk peluang promosi, komunikasikan kriteria, proses, dan waktu pelaksanaannya. Keterbukaan semacam ini memberikan rasa aman dan arah bagi Gen Y.
Di era modern, Perusahaan tidak lagi memiliki “kemampuan” untuk menutup-nutupi informasi. Arus digital membuat segala hal mudah dibagikan, dianalisis, dan dikomentari. Karena itu, Perusahaan yang memilih transparansi sejak awal lebih mungkin membangun kepercayaan jangka panjang. Transparansi bukan hanya etika komunikasi, tetapi strategi Perusahaan untuk tetap relevan dan kompetitif.
Akhirnya, jika Perusahaan ingin mempertahankan dan memaksimalkan semangat dan motivasi kerja Gen Y, transparansi komunikasi harus menjadi budaya, bukan sekadar kebijakan. Dengan informasi yang jelas, jujur, dan aksesibel, Gen Y merasa dihargai, aman, dan memiliki peran nyata dalam perjalanan Perusahaan. Dari situlah motivasi yang kuat dan berkelanjutan, muncul motivasi yang dibutuhkan organisasi untuk bertahan dan berkembang di tengah dinamika modern.
Mathilda Sumiar Panjaitan
Mahasiswi Magister By Project Ilmu Komunikasi UNPAD
