Mediacirebon.id – Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Cirebon kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Ribuan ton komoditas strategis masuk melalui pelabuhan yang berada di jalur Pantura tersebut untuk memenuhi kebutuhan industri, pangan, hingga peternakan di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Suasana di kawasan dermaga terlihat sibuk. Kapal-kapal pengangkut barang silih berganti bersandar untuk membongkar muatan, sementara ratusan pekerja bongkar muat dan armada truk terus beroperasi mengangkut komoditas menuju berbagai daerah tujuan distribusi.
Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Cirebon, Hari Priyana, mengatakan aktivitas logistik di Pelabuhan Cirebon menunjukkan pelabuhan masih memiliki peran penting sebagai jalur distribusi barang dari berbagai daerah di Indonesia.
Pelabuhan Cirebon melayani bongkar muat sekitar 14.900 ton garam impor asal Australia dan 4.700 ton jagung dari Pelabuhan Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Ada bongkar sekitar 14.900 ton garam impor dari Australia serta 4.700 ton jagung dari Dompu, NTB,” kata Hari Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, komoditas yang masuk melalui Pelabuhan Cirebon berasal dari berbagai wilayah seperti Kalimantan, Sumatera hingga Indonesia bagian timur. Barang-barang tersebut kemudian disalurkan ke sejumlah daerah untuk memenuhi kebutuhan industri maupun masyarakat.
“Pelabuhan Cirebon ini menjadi gerbang ekonomi. Barang dari luar daerah masuk lewat sini untuk kebutuhan masyarakat dan industri,” ujarnya.
Hari menjelaskan, Pelabuhan Cirebon memiliki posisi strategis dalam mendukung rantai distribusi logistik di kawasan Pantura. Selain melayani wilayah Cirebon dan sekitarnya, distribusi barang juga menjangkau sejumlah daerah di Jawa Barat hingga Jawa Tengah.
Ia menyebutkan sedikitnya terdapat sekitar 1.200 armada truk yang terdaftar untuk mendukung aktivitas distribusi barang dari kawasan pelabuhan. Armada tersebut setiap hari membawa komoditas menuju daerah tujuan seperti Bandung, Ajibarang, Songgom, Tegal hingga wilayah Jawa Tengah bagian timur.
“Barang-barang dari sini didistribusikan ke banyak daerah. Jadi aktivitas pelabuhan ini memang berkaitan langsung dengan pergerakan ekonomi,” ucapnya.
Kesibukan di area pelabuhan tidak hanya terlihat dari banyaknya kendaraan pengangkut barang, tetapi juga aktivitas pekerja bongkar muat yang berlangsung hampir tanpa henti selama 24 jam.
Menurut Hari, Pelabuhan Cirebon melayani berbagai jenis komoditas mulai dari curah cair, curah kering, general cargo hingga peti kemas. Setiap barang yang datang langsung diarahkan menuju tempat penyimpanan sesuai jenis muatan.
Untuk komoditas cair, pelabuhan memiliki fasilitas tangki timbun sebagai tempat penampungan sementara sebelum barang didistribusikan. Sementara untuk komoditas curah kering seperti garam dan jagung, proses bongkar dilakukan menuju gudang atau area penampungan.
Selain menjadi pintu masuk barang dari luar daerah, Pelabuhan Cirebon juga melayani pengiriman komoditas ke luar daerah. Salah satu komoditas yang pernah dikirim melalui pelabuhan tersebut adalah semen curah produksi industri di wilayah Cirebon menuju Kalimantan.
Hari menyebutkan, pengiriman semen curah tersebut sebelumnya pernah mencapai sekitar 90 ribu ton untuk kebutuhan pembangunan di Kalimantan.
“Untuk semen curah sebelumnya pernah sampai sekitar 90 ribu ton yang dikirim ke Kalimantan,” ungkapnya.
Selain semen, pelabuhan juga pernah melayani pengiriman komoditas pangan milik Bulog dari wilayah Losarang menuju Dumai, Riau. Total pengiriman saat itu mencapai sekitar 2.000 ton.
Meski demikian, Hari mengakui arus barang keluar melalui Pelabuhan Cirebon masih belum sebesar volume barang yang masuk. Menurutnya, belum banyak industri besar di wilayah Cirebon yang memanfaatkan pelabuhan sebagai jalur distribusi utama.
“Kita berharap industri di Cirebon bisa lebih banyak menggunakan pelabuhan untuk pengiriman barang. Kalau ada kegiatan muat, pasti kami dukung,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan pelabuhan memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat sekitar. Aktivitas bongkar muat setiap hari turut menciptakan lapangan kerja bagi tenaga bongkar muat, sopir angkutan, hingga sektor usaha penunjang lainnya.
Ratusan pekerja terlibat dalam proses pemindahan barang dari kapal menuju gudang maupun kendaraan distribusi. Aktivitas tersebut berlangsung siang dan malam untuk memastikan distribusi barang berjalan lancar.
Namun proses bongkar muat tidak selalu berjalan mudah. Kondisi fasilitas kapal menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan pekerjaan di lapangan.
Hari menjelaskan, masih ada kapal yang proses bongkar muatnya dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia. Hal itu terjadi karena kapasitas derek kapal terbatas sehingga tidak mampu mengangkat barang dalam jumlah besar.
Dalam satu palka kapal, puluhan pekerja harus masuk ke dalam untuk menyekop muatan sebelum diangkat menggunakan jala-jala.
“Satu palka bisa sekitar 24 orang. Kalau dereknya kecil, barang tidak bisa langsung diangkat besar-besar, jadi masih pakai tenaga manusia,” tambahnya.
Berbeda dengan kapal yang sudah menggunakan alat grab. Proses bongkar muat dapat dilakukan lebih cepat karena barang langsung dipindahkan menuju hopper atau corong penampung sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut.
“Kalau kapal yang dereknya besar lebih mudah karena pakai grab,” tegasnya.
Selain tantangan teknis bongkar muat, keterbatasan area penumpukan batu bara juga menjadi perhatian. Saat ini Pelabuhan Cirebon tidak lagi memiliki stockpile batu bara di area pelabuhan karena lokasinya berdekatan dengan permukiman warga.
“Sekarang tidak ada stockpile batu bara di dalam pelabuhan karena dekat dengan masyarakat,” pungkasnya.
Meski menghadapi sejumlah tantangan, ia memastikan operasional pelabuhan secara umum berjalan lancar tanpa kendala berarti. Peningkatan aktivitas bongkar muat dalam beberapa waktu terakhir dinilai menjadi sinyal positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Dengan posisinya yang strategis di jalur Pantura, Pelabuhan Cirebon masih menjadi salah satu simpul penting distribusi logistik yang menopang kebutuhan industri dan masyarakat di Jawa Barat maupun Jawa Tengah.
