Mediacirebon.id – Saya mengambil salah satu contoh foto dari google. yaitu di sungai daerah kota mataram,lombok. nusa tenggara barat. Seperti sungai jangkok. Pemandangan sungai yang penuh sampah ini memperlihatkan bagaimana perilaku manusia berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan. Warga dan petugas harus turun langsung ke air untuk memulihkan kondisi sungai yang tercemar.
Krisis lingkungan bukan lagi isu masa depan, tetapi kenyataan yang setiap hari kita rasakan. Cuaca ekstrem, polusi udara, sampah plastik, banjir, dan penurunan kualitas tanah adalah tanda-tanda kerusakan alam yang semakin nyata. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor utamanya bukan hanya alam, melainkan perilaku manusia yang tidak seimbang dengan kemampuan bumi bertahan.
Menurut teori human–environment interaction dalam Geografi, manusia dan lingkungan saling memengaruhi dalam hubungan timbal balik. Ketika manusia mengeksploitasi alam secara berlebihan—menebang hutan, membangun tanpa perencanaan, membuang sampah sembarangan—maka lingkungan akan memberikan “balasan” berupa bencana ekologis. Fenomena banjir di daerah kota, misalnya, bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi juga hilangnya ruang terbuka hijau dan perilaku masyarakat yang membuang sampah ke sungai.
Sosiolog Ulrich Beck dalam teori “masyarakat risiko” menjelaskan bahwa masyarakat modern justru menciptakan risiko baru akibat kesalahan pengelolaan teknologi dan gaya hidup. Konsumsi plastik sekali pakai, ketergantungan kendaraan pribadi, serta gaya hidup instan mempercepat kerusakan lingkungan. Krisis iklim hari ini adalah bentuk risiko yang muncul dari ulah manusia sendiri.
Dari perspektif ekonomi, perilaku konsumtif masyarakat juga menyumbang permasalahan lingkungan. Semakin tinggi tingkat konsumsi, semakin tinggi pula produksi sampah dan limbah. Produk murah, cepat, dan sekali pakai memang menguntungkan secara ekonomi jangka pendek, namun berdampak buruk bagi ekosistem. Inilah yang disebut externalities, yaitu dampak negatif yang tidak diperhitungkan dalam aktivitas ekonomi tetapi merugikan masyarakat luas.
Krisis lingkungan bukan hanya masalah kebijakan pemerintah; ini adalah masalah kebiasaan sehari-hari. Sampah plastik di sungai adalah akibat pilihan kecil kita setiap hari. Polusi udara meningkat karena keputusan individu untuk tetap memakai kendaraan pribadi meski jarak dekat bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Kerusakan bumi terjadi bukan dalam sekejap, tetapi melalui akumulasi perilaku kecil yang dilakukan jutaan orang secara bersamaan.
Meski situasinya mengkhawatirkan, perubahan masih mungkin dilakukan. Pendidikan lingkungan harus menjadi bagian dari kultur sosial, bukan hanya pengetahuan di sekolah. Perubahan pola konsumsi, penggunaan barang ramah lingkungan, pengurangan sampah, dan kepedulian terhadap ruang hijau adalah langkah sederhana namun berdampak besar. Pemerintah memang harus memperbaiki tata kelola lingkungan, tetapi tanpa perubahan perilaku masyarakat, kebijakan itu tidak akan berjalan.
Krisis lingkungan adalah cermin dari cara kita memperlakukan bumi. Jika manusia menjadi penyebab kerusakan, manusia pula yang harus menjadi bagian dari penyelesaiannya. Dengan kesadaran ekologis dan perubahan gaya hidup, kita tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga memastikan masa depan yang layak bagi generasi selanjutnya. Pada akhirnya, bumi tidak butuh manusia—kitalah yang membutuhkan bumi.
Untuk dikumpulkan:
Nama: Lailatul Maulida
NIM: 2530104059
Prodi: Ilmu Pengetahuan Sosial / Pendidikan ips
