Mediacirebon.id – Kabar penonaktifan BPJS PBI akibat kebijakan desil sempat membuat jantung sejumlah pasien gagal ginjal di Kabupaten Cirebon berdegup lebih kencang. Bagi mereka, cuci darah bukan sekadar prosedur medis rutin. Itu adalah penopang hidup.
Di tengah kekhawatiran itu, RSUD Waled memastikan selama pasien membutuhkan tindakan medis, pelayanan tetap diberikan. Sementara urusan administrasi bisa menyusul dan pihak rumah sakit akan dibantu
“Pada prinsipnya RSUD Waled menjamin perlindungan kepada semua pasien. Untuk pasien BPJS PBI nonaktif, kami tetap memberikan pelayanan, bukan hanya untuk pasien hemodialisa tetapi pasien lain juga tetap kami layani,” jelasnya.
Dari total 122 pasien hemodialisa aktif di RSUD Waled, enam di antaranya terdampak penonaktifan BPJS PBI. Secara angka mungkin terlihat kecil. Namun bagi enam keluarga itu, keputusan tetap dilayani adalah soal hidup dan mati.
Sejumlah keluarga pasien mengaku sempat kebingungan saat mendengar kabar BPJS PBI dinonaktifkan akibat kebijakan berbasis desil tersebut. Biaya cuci darah yang tidak sedikit membuat mereka dihantui kecemasan.
“Kami sempat bingung harus bagaimana. Cuci darah ini kan tidak bisa berhenti. Kalau berhenti, risikonya besar sekali,” ujar salah satu keluarga pasien yang enggan disebutkan namanya.
Namun kepanikan itu perlahan mereda setelah pihak rumah sakit memastikan layanan tetap diberikan sembari membantu proses reaktivasi kepesertaan.
“Tadinya takut tidak bisa dilayani karena aktivasi PBI belum rampung. Sekarang tenang karena pihak rumah sakit tetap melayani,” ungkapnya. (Why)
