Mediacirebon.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon berupaya mengurangi sampah di TPA Kubangdeleg dan Gunungsantri. Pasalnya kapasitas TPA yang ada sudah overload menampung sampah.
Kepala DLH Kabupaten Cirebon Dede Sudiono mengatakan, masyarakat menghasilkan sekitar 1,200 ton sampah setiap hari. Sementara TPA Gunungsantri mampu menampung 500 ton dan TPA Kubangdeleg 100 ton per hari.
“Dalam sehari rata-rata masyarakat Kabupaten Cirebon menghasilkan 0,5 kiligram sampah. Sisa sampah ada yang dikelola secara mandiri oleh pemerintah desa,” kata Dede kepada wartawan, Senin (19/1/2026)
Masih kata Dede, saat ini DLH memiliki 192 kontainer sampah yang tersebar di Kabupaten Cirebon dengan total memiliki 72 armada. Setiap pagi armada secara bergantian mengambil kontiner sampah di TPS untuk dibuang ke TPA.
“Satu armada bisa mengambil tiga kontiner sampah. Biasanya untuk pengambilan memperhatikan jarak ke dari TPS ke TPA dan kapasitas,” jelas Dede.
Dede mengakui, mimimnya kesadaran masyarakat tidak membuang sampah membuat DLH kesulitan dalam penanganan sampah. Terbukti TPS liar kembali banyak bermunculan meski sering ditutup dan diberi peringatan tidak membuang sampah sembarangan.
“Sudah diedukasi, dipasang baliho tetap saja masih muncul TPS liar. Ini artinya kesadaran masyarakat masih minim,” kata Dede.
Upaya yang dilakukan sambung Dede, gencar mengedukasi masyarakat dengan dibarengi program yang berkaitan dengan pengurangan sampah rumah tangga. “Berlahan kami edukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan,” tuturnya.
Bukan hanya itu, DLH juga meminta desa untuk mengelola sampah secara mandiri. Dia mencontoh Desa Gempol dan Palimanan Barat yang sudah berhasil mengelola sampah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF)
“RDF dijual ke perusahaan yang membutuhkan. Hasilnya bisa menjadi pendapatan di desa, ini yang kami harapkan,” ujar Dede.
Upaya lain kata Dede dengan mencanangkan kampung bersih di 40 kecamatan. Selain itu memberikan bantuan motor roda tiga dan alat pencacah sampah untuk desa-desa di Kabupaten Cirebon.
“Semuanya itu untuk mengurangi sampah dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya mengelola sampah,” tegasnya. (Why)
